Muslim Youth Millionaire Conference 2012 – Peran Pengusaha Muda Muslim dalam Kemajuan Islam di Masa Depan

perdagangan-muslimSource: google

The first post of “light the wit”, I mean to share my writings that I applied for competition and such. It’s better than just keep it in my laptop trash bin.

Muslim Youth Millionaire Conference-Article Competition (MYMC-AC) was held in 2012 as the commemoration of the gala conference. I joined it at that time I was just start to be really enthusiastic in entrepreneurship. And the award was interesting.

  • 1st place got 13 Dirham + VIP ticket of the conference + sponsorship packet + certificate
  • 2nd place got 11 Dirham + VIP ticket of the conference + sponsorship packet + certificate
  • Favorite winner got 9 Dirham + VIP ticket of the conference + sponsorship packet + certificate

Here is my article in Bahasa Indonesia: As usual, I also quoted some source but again forget where from since the competition didn’t require put the sources. But mostly, it was my full thoughts, well at the thoughts of me in year 2012.

Peran Pengusaha Muda Muslim dalam Kemajuan Islam di Masa Depan

Seperti dinukil dari berita elektronik media terkemukan di Indonesia yang di-post 2 maret 2012 lalu, masih sedikit jumlah pengusaha muslim di Indonesia. Jangankan pengusaha muslim, pengusaha umum saja masih terbilang sedikit di Negara ini. Pemimpin Redaksi, Harian Republika, Nashin Masha mengatakan jumlah pengusaha di Indonesia hanya mencapai 0.08 persen. Dari sekian persen itu, hanya sedikit yang merupakan pengusaha muda Muslim.

Tampaknya mindset para pemuda fresh graduate lebih nyaman dan mungkin merasa aman kalau mereka bisa menjadi karyawan di suatu perusahaan atau bahkan menjadi buruh. Jumlah pengusaha muda di Indonesia masih bisa dihitung jari.

Kenapa harus pemuda yang selalu digembar-gemborkan?

Pemuda itu identik dengan kata dinamis. Seperti halnya dengan perkembangan zaman dan berita, pemuda yang dinamis bisa mengimbangi kemajuan era.

Pemuda adalah iron stock. Pemuda adalah agent of change. Pemuda adalah direct change. Dengan fungsi-fungsi pemuda tersebut bisa terjawab kenapa harus pemuda yang menjadi aktor utama perubahan dan pendorong peradaban menjadi lebih baik.

Pemuda sebagai asset Negara yang dari zaman Bung Karno pun sudah terjamin perannya. Sudah terbukti banyak temuan-temuan dan inovasi karya anak bangsa yang dihasilkan seiring berkembangnya zaman. Satu lagi kelebihan pemuda, jika dibandingkan mereka yang sudah berumur, tentu pemuda masih memiliki banyak energi, pikiran dan waktu untuk diluangkan dalam usaha-usaha berbisnis mereka.

Muslim yang paling baik adalah muslim yang bermanfaat bagi sesamanya dan kehidupannya. Dalam era globalisasi ini, sudah sepantasnya pemuda muslim tidak hanya berani bergerak dalam kandang saja, mereka tentu perlu bergerak dalam lingkup yang luas lagi. Bermanfaat dalam segala aspek. Dan jika berbisnis itu menyenangkan dan memberikan profit yang lebih baik dari profesi-profesi yang lain, kenapa tidak?

Tapi seperti yang sudah dipaparkan pada paragraf di atas,berani terjun menjadi seorang pengusaha itu sulit apalagi bagi para pemuda. Dari kenyataan di atas, pemerintah mulai membuka pikiran bahwa sangat diperlukan pengetahuan tentang entrepreneurship sejak masih muda, maka mulai diadakanlah program pembelajaran entrepreneurship di kalangan pemuda, pelajar maupun mahasiswa.

Pemuda muslim seharusnya juga dilatih sejak dini untuk mendapatkan pencerdasan-pencerdasan sosial lain yang sudah mendunia. Salah satunya adalah pencerdasan berwirausaha dan berbisnis. Dengan cara memberikan pelatihan dan kurikulum tentang cara berbisnis dan berwirausaha kepada sekolah dan perguruan tinngi terutama sekolah-sekolah muslim, seperti pesantren.

Bagi saya pendidikan berbisnis dan berwirausaha dapat difokuskan disana dimana bermulanya peradaban ya dari pemuda-pemuda yang menuntut pendidikan di institusi tersebut. Jika dari fase menggali ilmu dan belajar di sekolah atau perguruan tinggi saja sudah dilatih aplikasi berbisnis secara langsung, maka saat keluar terjun ke dunia setelah pendidikan, para pemuda muslim tidak lagi kaget dan kebingungan bersaing dengan dunia karena sudah dibekalkan dengan pendidikan-pendidikan fundamental yang menyokong perekonomian.

Setelah mengaplikasikan pendidikan berbisnis tersebut, pastinya seorang muslim akan mensyi’arkan ajaran islam atau syariat tentang syariat berbisnis. Indonesia merupakan salah satu Negara dengan populasi ummat muslim terbanyak di dunia, tidak bisa dipungkiri kebutuhan akan produk-produk yang sesuai dengan syari’at sebagai bahan pokok sehari-hari sangat besar permintaannya. Bukan hanya dalam hal produk pokok sehari-hari yang masyarakat butuhkan kredibilitas syari’atnya, tapi juga perindustrian dan sistemnya pun harus berpatok pada syariat. Disini bisa kita lihat peran pemuda muslim sangat relevan dan dominan.

Satu dari hal fundamental yang diajarkan dalam syari’at adalah status halal. Ya, halal adalah kebutuhan yang tidak bisa dielak lagi oleh ummat muslim khususnya. Produk halal, industri halal, dan sistem yang halal merupakan segelintir objek bisnis yang bisa digarap.

Indonesia merupakan pusat perindustrian produk-produk halal dunia, seperti yang dikatakan oleh Direktur Performax sekaligus Ketua Komite Tetap Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rifda Ammarina, menyatakan Indonesia memiliki potensi pengembangan bisnis produk halal yang cukup besar karena menjadi negara dengan populasi Muslim terbesar dunia. Saat ini, nilai transaksi produk halal di dunia diperkirakannya mencapai 641 miliar dolar AS. Pihaknya optimis bisnis halal di Indonesia bakalan berkembang.

Itu baru di Indonesia, tapi bagaimana dengan Negara lain dimana masih banyak juga ummat muslim yang tinggal tersebar di Negara-negara minoritas muslim.

Masih sedikit sekali toko-toko yang menyediakan produk-produk halal di luar negeri. Bahkan dari sebuah data organisasi Halal Food Authority di Fullham, restoran cepat saji yang tadinya terdaftar dalam sertifikasi halal, tahun ini sudah tidak lagi termasuk dalam daftar halal.

Agak sulit memang, untuk menemukan pemuda muslim yang membuka suatu usaha di negeri minoritas muslim. Tapi bukankah kuantitas sedikit itu yang bisa dijadikan senjata strategi bisnis? Apalagi tak sedikit permintaan akan produk halal di luar negeri, bukan hanya oleh warga muslim, tapi juga non muslim pun banyak yang mencari produk-produk halal.

Kita bisa lihat sendiri banyak sekali pemuda-pemuda muslim yang menuntut ilmu ke luar negeri. Selain belajar mereka juga menyambi pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan uang saku lebih untuk hidup di sana. Sekarang kalau kita hitung berapa banyak pemuda muslim yang beralih dari sekadar menjadi waiter, cashier, atau freelance di suatu perusahaan asing menjadi pendiri usaha sendiri di Negara tempat mereka belajar? Pasti banyak sekali pendapatan untuk ummat muslim bukan? Bisa saja modalnya mereka dapatkan dari sponsor di Indonesia atau bisa mereka dapatkan di sana. Bisa juga mereka mengajukan kerjasama dengan berbagai lembaga di sana, kalau tidak terlalu berani mengambil resiko.

Kita bisa belajar dari kasus pemboikotan produk yahudi. Sudah menjadi kompleksitas umum bahwa banyak sekali produk-produk yahudi tersebar di Negara muslim yang katanya masuk kampanye pemboikotan tapi tetap saja lebih dipilih sebagai konsumsi sehari-hari, ketimbang produk buatan muslim di pasaran. Pertanyakan kenapa?

Mungkin jawabannya karena cara mengemas produk tersebut yang kurang menarik? Nah, disini peran pemuda dibutuhkan kembali, dimana pemuda bisa mengembangkan produk-produk yang kreatif dan inovatif. Masyarakat menjadi lebih tertarik untuk memilih produk buatan muslim, apalagi ditambah sertifikasi halal yang perlu dikoordinir oleh muslim itu sendiri demi keabsahannya.

Bisnis halal yang diterapkan ke seluruh dunia oleh ummat muslim dan pemuda muslim khusunya akan memberikan pendapatan ekonomi yang signifikan keuntungannya bagi peradaban islam itu sendiri. Ditambah lagi branding yang bisa didapat dari wajah internasional kalau pemuda mulim adalah pemuda yang terampil dan cerdas berbisnis serta mandiri dalam berprofesi.

Rasulullah SAW berdagang, islam pun terebar ke penjuru dunia oleh para pedagang. Betapa besar pengaruh pemain perdagangan untuk kemajuan islam pada masa itu. Kenapa kita tidak bisa pada saat ini, dimana islam telah tersebar namun masih saja ada problematika dunia asing terhadap islam. Berdagang adalah salah satu cara berbisnis, dan langkah bisnis lainnya masih banyak tersedia bagi pemuda muslim untuk dikelola. Marilah yang muda yang banyak berkarya. Tanamkan mindset pengusaha sukses sejak masih dalam jenjang pendidikan.

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba MYMC-AC. Keterangan lebih lanjut kunjungi website MYMC di http://www.mymconference.com”

emyeemce

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s